RSS

Perbedaan yang membuat Pasangan Menjadi Serasi

Perbedaan yang membuat Pasangan Menjadi Serasi
 

Dalam perjalanan rumah tangga, pasti pernah terjadi kerikil-kerikil konflik karena ada yang tidak disukai dari pasangan kita yang bisa menyebabkan seribu satu masalah. Misalkan berupa keputusan yang diambil dinilai oleh pasangannya tidak tepat, perilaku/cara dia menyampaikan pendapat menyinggung perasaan, kebiasaannya yang menjengkelkan, keinginannya yang tidak akomodatif, tidak mengajak bermusyawarah dahulu, menurut salah satu pihak merupakan hal yang prinsipil padahal menurut pasangan kita itu biasa-biasa saja, dll.

Untuk mengurangi rasa tersinggung atau marah karena perilaku pasangan, temukan kelebihannya, dan dengan hal inilah Allah menghendaki Anda mendapat kebaikan di sisi Allah dari

pasangan kita tersebut.

"... Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Q.S. An-Nisa 4: 19).

Setiap orang atau khususnya dari setiap pasangan, kita selalu hidup bagaikan berada pada dua sisi mata uang, terdapatnya sifat, terdapat perilaku yang disukai dan tidak disukai. Untuk itu diperlukan upaya hidup serasi walaupun pasangan itu memiliki perbedaan-perbedaan.

Anda bisa menjaga keserasian hubungan dengan cara belajar menghargai perbedaan sikap dan pandangan yang ada di antara Anda berdua.

Bila terjadi keributan suami-istri, untuk meredam kemarahan salah satunya berupaya mengingat kelebihan pasangan. Apabila sekarang Anda diminta mencari-cari kesalahan pasangan, pasti dengan cepat akan menemukannya. Padahal, sesungguhnya bila diingat-ingat mengapa Anda memilih dia, pastilah karena ia mempunyai hal-hal yang menarik bagi Anda.

Hadits berikut mengingatkan para suami bahwa pasangannya tentu mempunyai sejumlah kebaikan., Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, 

"Seorang mukmin laki-laki jangan membenci seorang mukminah (yang menjadi istrinya). Jika ia tidak suka pada salah satu perangainya, boleh jadi ia senang dengan perangai-perangainya yang lain."(H.R. Ahmad dan Muslim).

Sedangkan untuk seorang istri, hendaklah berhati-hati jangan sampai termasuk ke dalam golongan yang disebutkan dalam hadits berikut. Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi Muhammad saw. bersabda, "Saya pernah melihat neraka. Kebanyakan penghuninya adalah kaum perempuan, yaitu mereka yang tidak tahu berterima kasih kepada suami. Andaikata engkau (suami) berbuat baik kepada seseorang di antara mereka setahun, kemudian ia melihat sedikit cela padamu, maka ia mengatakan: Saya tak pernah melihat kebaikan sama sekali darimu. (H.R. Bukhari).

Pelajari Pasangan Anda.

Sadarilah bahwa walaupun Anda saling mencintai, Anda bisa bereaksi secara berbeda terhadap seseorang atau kejadian-kejadian tertentu, karena Anda merupakan dua pribadi yang mempunyai pengalaman hidup yang berbeda.

Dengarkan baik-baik apa yang dinyatakan pasangan Anda dan cobalah menghargai pendapatnya. Mungkin cara dia melihat suatu masalah berbeda dengan Anda, tetapi pendapatnya bisa memberi imbangan pada pandangan Anda. Pada dasarnya, setiap manusia butuh dihargai, dan penghargan ini pulalah yang merupakan kunci kesuksesan rumah tangga Anda. Hal ini perlu pembiasaan dari masing-masing pihak.

Rasulullah telah memberikan arahan metode pendekatan bagi para ikhwan/suami. Dari Abu Hurairah r.a., ujarnya: Rasulullah saw. bersabda, "Nasihatilah para wanita itu dengan baik-baik, karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk, sedangkan tulang rusuk yang paling bengkok ialah bagian atas. Jika engkau memaksa meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, tetapi jika engkau biarkan, ia akan terus bengkok. Karena itulah nasihatilah para wanita dengan baik-baik." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jika suami tidak setuju atau merasa terganggu dengan sikap istri, tanyakan padanya mengapa ia melakukan hal itu. Janganlah menuntut agar dia berubah. Tuntutan Anda bisa dipastikan akan membuat pasangan Anda mempertahankan diri atau marah, sehingga lebih sukar untuk mengharapkan dia akan berubah. Dengan berkomunikasi, Anda tidak saja bisa mengetahui motivasinya dengan lebih baik, tetapi juga mungkin ia malah tergerak untuk mengintrospeksi dirinya, memeriksa kembali perbuatan yang telah dilakukannya.

Jangan cepat-cepat berkesimpulan bahwa reaksi negatif yang ditunjukkan oleh pasangan Anda kepada Anda memang ditujukan kepada Anda. Hal ini mungkin peningggalan dari masa kecilnya atau frustasi karena ketidakmampuannya untuk mengatasi suatu masalah.

Pahami diri Anda sendiri, kepekaan yang khusus akan sesuatu yang bisa membuat Anda kesal itu terbentuk karena proses pembentukan diri selama bertahun-tahun. Jika Anda berdua sudah berusaha menghindari daerah rawan ini, usahakan untuk berdiskusi dalam suasana yang penuh toleransi dan tidak menghakimi. Yang terpenting, hindarkan sikap menyalahkan pasangan Anda.
    
Bagaimanapun eratnya hubungan kita dengan pasangan, apa yang kita anggap ideal seringkali berbeda dengan pandagan pasangan kita. Hal ini disebabkan kita dibesarkan dalam keluarga yang berbeda. Misalnya suami tidak pernah banyak bercerita tentang pengalamannya karena berasal dari keluarga besar, sehingga masing-masing tidak pernah saling bekomuniksi. Sedangkan istri dari keluarga yang terbuka, sering mengalokasikan waktu untuk keluarga, sering mendiskusikan kesulitan bersama antar anggota keluarga.

Usaha Memperkecil Konflik

Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya konflik, para ahli psikologi menyarankan antar pasangan untuk saling lebih memahami kedudukan pasangannya. Tidak menuntut pasangannya untuk selalu berpandangan atau bereaksi sama, tetapi mencoba menemukan penyebab perbedaan pandangan atau reaksi yang ditunjukkan pasangannya.

Adanya berbagai perubahan dalam ritme keluarga, kesempatan suami-istri untuk berkomuniksi pun berkurang. Akibat kelelahan yang amat sangat, terserapnya seluruh perhatian pada berbagai urusan yang berhubungan dengan bayi, atau pekerjaan suami, menyulitkan masing-masing pihak untuk berpikir, apalagi bersama-sama membicarakan masalah perubahan peran mereka secara mendalam. Karena waktunya begitu sempit, kita cenderung mengharapkan pasangan kita bisa secara otomatis memahami kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan kita.

Idealnya, perbedaan-perbedaan yang ada di antara Anda berdua janganlah dijadikan hal yang bisa memisahkan diri pribadi Anda masing-masing, tetapi cobalah untuk mencintai dan saling mempelajari perbedaan yang ada, sehingga Anda berdua bisa membentuk suatu karakteristik baru yng bisa menjadi ciri khas anda berdua sebagai sepasang suami-stri.
Hubungan suami-istri yang serasi sangat bergantung pada kemampun masing-masing pihak dalam memahami apa yang dirasakan pasangannya.

Kadang-kadang, dengan mendengarkan apa yang dirasakan/dikeluhkan pasangan Anda, bisa lebih mendekatkan Anda berdua. Pasangan Anda jadi bisa mengeluarkan unek-uneknya, sementara Anda pun bisa mendapatkan pandangan tentang perilaku pasangan Anda. Diskusi yang jujur bisa memperbaiki asumsi kita yang salah tentang pasangan kita. Banyak konflik dalam hubungan sumi-istri terjadi karena ketidaktahuan atau kesalahpahaman yang sebetulnya bisa dijernihkan hanya dengan menanyakan secara langsung kepada pasangan kita.

Dengan hadirnya anak atau dengan peran baru sebagai orang tua, pasangan suami-istri seharusnya belajar untuk bekerja sama. Misalnya saja kalau anak sakit, anak tidak mau shalat, kalau raport anak buruk, dll., siapa yang harus bertanggung jawab atau bagaimana cara mengatasinya, itu menuntut adanya keputusan bersama dari suami-istri.

Untuk memperkecil kemungkinan konflik antar pasangan, jangan menumpuk-numpuk masalah karena sewaktu-waktu akan menggelinding bagai bola salju yang besar, menggulung menimpa kita. Wallahu A'lam.



Literatur   :   http://www.percikaniman.org/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar